Ads Top

Fanatisme Tidak Dibenarkan Dalam Islam Karena Jadi Penyebab Konflik SARA

''Ya Rasulullah apakah itu ashabiyah? Kemudian beliau bersabda, kamu menolong kaummu dengan zalim.'' Fanatisme golongan tidak dibenarkan dalam Islam, karena fanatisme-lah yang sering menjadi penyebab konflik, baik konflik antarsuku, ras maupun agama dan antargolongan (sara). Konflik terjadi karena fanatisme biasanya berakhir dengan ketegangan dan dendam kesumat.

Islam memberikan rambu-rambu kehidupan kepada umatnya untuk mencegah sikap fanatik dan mau menang sendiri, di antaranya adalah tasamuh (toleransi) dan sayang-menyayangi terhadap sesama manusia dengan cinta kasih. Dengan tasamuh sikap seseorang diikat dengan tali persamaan bukan dengan tali perbedaan. Orang yang beretnis tertentu harus ber-tasamuh dengan orang yang beretnis lain. Berbeda dalam hal keetnisan tapi sama di mata Allah SWT.

Seorang Muslim yang sejati tidak pernah membeda-bedakan seseorang dengan orang yang lain atas dasar etnis atau golongan. Sebaliknya yang membedakannya adalah ketakwaan kepada Allah SWT. ''Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah''.

Rasulullah SAW tidak pernah membedakan golongan Aus dengan Khazraj yang merupakan suku mayoritas di Madinah. Justru Rasulullah SAW mempersatukan keduanya dengan cahaya Islam. Pernah pada suatu hari di Madinah Rasul marah ketika mendengar golongan Aus dan Khazraj akan berperang kembali seperti dahulu. Dan beliau mendamaikannya kembali.

Fanatisme atau ta'assub dalam bermazhab tidak diperbolehkan, sampai-sampai para imam mazhab sendiri melarang ber-ta'assub. Imam Malik berkata, ''Sesungguhnya aku ini seorang manusia, aku pernah salah dan aku pernah benar, oleh karena itu perhatikanlah pendapatku, jika pendapatku ini sejalan dengan Alquran dan hadits maka ambillah dan jika tidak maka tinggalkanlah.''

Kesimpulannya Islam tidak memperbolehkan fanatik, baik terhadap suku, mazhab, golongan, partai dan sebagainya. Hendaklah kita sebagai muslim berpikiran terbuka, mengutamakan persamaan daripada perbedaan, dengan bertasamuh dan saling sayang menyayangi.

(Irfan Awaludin, Republika.co.id)

No comments:

Powered by Blogger.