Ads Top

Lagu Bengawan Solo, Popularitasnya Mengalir Sampai Jepang

'Desi-san, kamu tau lagu Bengawan Solo?' adalah pertanyaan dari shachou (Direktur/Manager) saat hari pertama bekerja di perusahaan Jepang ini. Saya kaget kenapa kok dia bisa tau lagu Bengawan Solo. Lalu beliau menyanyikannya sepanjang perjalanan pulang menuju kantor setelah rapat dengan customer. Menurut beliau dia tau lagu Bengawan Solo karena kakeknya yang merupakan veteran Perang Dunia II suka menyalakan lagu tersebut dari piringan hitam di rumahnya pada masa kecilnya.

"Bengawan Solo" adalah lagu Indonesia tentang Sungai Solo, yang mengalir melewati Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lagu itu menggambarkan sungai tersebut dengan kata-kata yang puitis dan bernuansa nostalgia, dikelilingi oleh gunung-gunung, sumbernya dekat kota Surakarta, berakhir di laut, dan para pedagang memanfaatkannya. Ada banyak versi lagunya dalam berbagai bahasa.

Ditulis pada tahun 1940 oleh Gesang Martohartono, dalam gaya keroncong lokal dengan gaya rakyat yang populer pengaruh dari Portugis. Gesang yang lahir tahun 1917 adalah musisi otodidak dan mencari nafkah dengan menulis lagu dan menyanyi di sejumlah acara, termasuk perkawinan dan acara-acara lain. Dilansir dari beberapa sumber, lagu fenomenal ini diciptakan pada 1940, ketika Gesang masih berusia 23 tahun. Gesang muda waktu itu sedang duduk di tepi sungai Bengawan Solo dan mendapat inspirasi menciptakan sebuah lagu yang prosesnya memakan waktu enam bulan. Bengawan Solo bahkan menjadi satu-satunya lagu yang dibuat Gesang sepanjang tahun 1940. Gesang, wafat pada 20 Mei 2010

Lagu ini juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang, dan sempat menghiasi salah satu film layar lebar di Negeri Sakura. Lagu Bengawan Solo masuk ke Jepang untuk pertama kali sekitar setengah abad yang lalu di kala selama Perang Dunia II.. Pada saat tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, lagu itulah yang sering diputar di radio Indonesia dan akhirnya terdengar di kalangan serdadu Jepang serta orang-orang Jepang yang berada di sini. Para prajurit membawa pulang "Bengawan Solo" bersama mereka ke Jepang setelah perang. Lewat lagu Bengawan Solo orang Jepang langsung tahu bila kita menyebut nama Gesang. Terutama bagi mereka yang berusia lanjut.

Melodinya menarik bagi tentara Jepang yang menduduki maupun bagi tahanan non-Indonesia (terutama warga sipil Belanda) di kamp-kamp interniran. "Bengawan Solo" dibawa kembali ke Jepang oleh tentara yang kembali, di mana (dengan lirik diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang) mendapatkan popularitas besar setelah penyanyi seperti Toshi Matsuda merilis versi rekamannya yang menjadi best-seller. Lagu ini hampir identik dengan persepsi musik Indonesia di Jepang.


Bagi yang mau dengar bisa buka di link Spotify di bawah : 
  
Sekelompok veteran Jepang mengatur pembuatan patung Gesang yang ditempatkan di satu taman di Solo, sebagai tanda penghargaan mereka atas lagu yang berhasil menembus lintas budaya di masa perang.


Taman Gesang didirikan oleh organisasi Jepang, Perhimpunan Dana Gesang di Jepang, pada tahun 1983 dan diresmikan 10 tahun kemudian pada tanggal 1 Oktober 1993 oleh Walikota Surakarta, Hartomo, dan Ketua Perhimpunan Dana Gesang di Jepang, Mitsuo Hirano. Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) Jepang memberikan royalti kepada penyanyi legendaris Indonesia Gesang Martohartono sebesar Rp100 juta per tahun. Pemberian ini terkait dengan dialihbahasakan lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang ke bahasa Jepang.

Lagu ini juga terkenal di Korea Selatan setelah dinyanyikan oleh seorang profesor musik di Seoul Institute of Art (SIA), Lee Jungpyo, dengan iringan alat musik tradisional Korea gayageum (sejenis kecapi) yang juga dimainkannya. Dalam hitungan hari, video versi cover lagu tersebut sudah ditonton lebih dari 230.000 orang.

Lagu ini juga menjadi hit besar di kalangan masyarakat Cina setelah penyanyi Malaysia Poon Sow Keng menyanyikannya dengan lirik Mandarin untuk Hong Kong Pathe pada tahun 1956. Popularitasnya semakin didorong oleh Koo Mei, yang membuat rendisi untuk Philips Records tak lama kemudian. (Pathe dan Philips adalah pesaing utama pada waktu itu.) Sejak itu, banyak penyanyi bahasa Cina telah menulis lirik mereka sendiri untuk lagu tersebut, membuatnya terkenal di musik oldies Tiongkok.

Versi bahasa Inggris, berjudul "By the River of Love", direkam oleh Rebecca Pan dari awal 1960-an Hong Kong. Liriknya menggambarkan malam romantis di bawah bintang yang berkelap-kelip dan telapak tangan yang berayun. Rekaman periode oleh Rebecca Pan dapat didengar di soundtrack film 2000 In the Mood for Love oleh sutradara Wong Kar-wai. Pan juga berperan dalam film itu, memerankan Ny. Suen.

Banyak artis telah merekam "Bengawan Solo" dalam bahasa Indonesia, di antaranya adalah Waljinah, Anneke Grönloh, Frances Yip, P.Ramlee dan Saloma.

Kalo sachou-ku pribadi suka lagu ini karena bisa menggambarkan alam dengan indahnya.

Ditulis oleh: Desi Septiani


No comments:

Powered by Blogger.