Kisah Mayor Oetarja, Perwira Staf Brigade Siliwangi Yang Dipenggal DI/TII



Divisi Siliwangi mungkin satu-satu nya kesatuan militer di Indonesia yang mengalami tempaan dan hambatan yang luar biasa.

Di "giring" keluar kandang bukan karena kalah perang tapi harus patuh pada perintah "politik" (Perjanjian Renville), dikebiri kekuatannya hampir separuhnya juga karena politik, di fitnah, belum lagi 'ditusuk' bangsa sendiri saat Long marc.

Kisah 'ditusuk' bangsa sendiri ini banyak yang memilukan seperti kisah gugurnya Mayor Oetarja berikut ini.

Saat kembali ke Jawa Barat setelah agresi militer Belanda ke 2, rupanya di Jawa Barat SM. Kartosoewirjo menusuk dari belakang dengan memproklamirkan Negara Islam Indonesia dan Tentara Islam Indonesia. Ketika anak-anak Siliwangi sedang berjibaku melawan Belanda, di saat itu pula muncul DI/TII yang makin membuat kisruh suasana.


Mayor Oetara selaku Perwira Staf Brigade XIV/ Siliwangi, menerima perintah atasan untuk mengadakan perundingan dengan pihak DI-TII di daerah Cigalontang. Beliau dikawal oleh satu regu prajurit Siliwangi, dan diantar oleh Adah Djaelani (Bupati DI-TII).

Perundingan berlangsung dengan SM. Kartosoewirjo yang didampingi oleh Oni dan Sjaefullah pembantu-pembantu dekat SM. Kartosoewirjo. Ternyata perundingan gagal, tidak mencapai kesepakatan untuk bekerjasama mengusir Tentara Belanda.

Satu regu TNI pengawal Mayor Oetarja dilucuti senjatanya, sedangkan Mayor Oetarja sendiri ditahan, yang kemudian dieksekusi dengan cara ditelanjangi terlebih dahulu, yang kemudian ditebas kepalanya didepan lubang lahat yang sudah disediakan.

Jadi jika ada orang yang tak tahu seperti apa perjuangan anak-anak Siliwangi dan malah terkesan membela Kartosoewirjo, maka anak-anak Siliwangi-lah yang paling merasakan sakit hati.

Sumber Musium Mendala Wangsit Siliwangi
Ditulis oleh: Beny Rusmawan

Post a Comment

Silakan komentar dengan bijak dan santun.

Previous Post Next Post