Ads Top

Bedanya Pembantu Jokowi Dan Pengamat Moneter Kelas Kampret

Hari ini menteri keuangan dan BI mengadakan raker dengan DPR. Tadinya DPR sudah siap menyerang dengan issue kurs melemah. Tetapi setelah dijelaskan oleh SMI dengan data yang ada, akhirnya DPR menyetujui semua asumsi RAPBN tahun 2019.

Apa yang menarik dari Raker? Seakan raker ini puncak anti klimak fakta lawan hoax. Berita issue negatif bahwa pemerintah lemah karena kurs melemah terbantahkan sudah. Bahwa berdasarkan asumsi APBN 2018, nilai tukar Rupiah terhadap dolar berada pada Rp13.400 per dolar Amerika Serikat. Kalau dihitung rata-rata tahunan Januari sampai September 2018 rata rata kurs di 13.977 per dollar.

Artinya asumsi meleset sebesar Rp 577 per USD lebih tinggi. Tetapi mengapa tidak sampai APBN direvisi? Karena pelemahan kurs itu tidak sampai membuat APBN tekor. Malah berdasarkan hitungan, APBN kelebihan pendapatan atas pelemahan kurs tersebut. SMI mengatakan bahwa setiap pelemahan atau depresiasi Rp 100 per US$ maka ada kenaikan penerimaan Rp 4,7 trilun dan belanja negara naik Rp 3,1 triliun. Hitunglah kalau pelemahan sebesar Rp 577 per USD. Lumayan surplus APBN. Makanya tahun ini neraca primer kita surplus. Artinya ini pertama kali sejak 2013 APBN kita sehat lahir batin. Mengapa? Karena pendapatan dikurangi belanja mencatat surplus.

Ternyata pelemahan rupiah memang karena terjadinya arus keluar dana jangka pendek tahun 2018 akibat bukan karena kebijakan suku bunga The Fed tetapi faktor perang dagang. Karena serangan suku bunga the fed tahun 2016 dan 2017 sudah ada namun capital inflow tinggi sehingga Defisit CAD dapat ditutupi dari capital inflow. Tahun 2018 ini perang dagang menekan CAD dan yang pada waktu bersamaan terjadi capital Outflow. Makanya SMI menetapkan Kurs tahun 2019 pada APBN adalah 14.400. Inilah kurs rata rata yang realitis dalam kondisi terjadi capital Outflow akibat kebijakan suku bunga the fed dan perang dagang.

Dampaknya APBN akan semakin bergantung kepada pembiayaan rupiah. Tentu ini semakin sehat APBN. Samakin mandiri. Indonesia akan me efektifkan Bilateral Swap Agreement (BSA) atau biasa disebut juga Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA). Skema ini adalah perjanjian kedua negara untuk transaksi tapi tidak menggunakan mata uang dolar, bisa menggunakan mata uang rupiah. Udah tiga negara yang sudah approved seperti Jepang, Korea dan China. Kalau tiga negara maju ini aja mau, apalagi negara berkembang. Selanjutnya Good Bye AS.

Sebetulnya para pejabat moneter dan keuangan kita adalah mereka dengan skill first class. Kaliber mereka bukan hanya lokal tetapi dunia. Segala hal yang mengkawatirkan orang awam dengan issue poltik murahan para politisi dan pengamat kelas kampret tidak beralasan. Mengapa? Karena ukuran mereka para politisi dan pengamat itu membaca situasi seperti isi kepala mereka yang segede kacang ijo karena keseringan ngaji sambil ngelonjor. Jelas terlihat bedanya antara pembantu Jokowi dan pengamat oneter kelas kampret. (FDDB)

No comments:

Powered by Blogger.