Ads Top

Sepotong Toleransi di Ranah Minang

Di penghujung bulan Maret 2006 pukul 19.00, pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi dari Jakarta, mendarat mulus di runway Minangkabau International Airport, Padang. Hati saya bergembira karena sebentar lagi akan bersua dengan sahabat lama, Ainun, gadis jawa cantik yang menjadi pengajar di Pondok Pesantren Modern Diniyyah Puteri, Padang Panjang. Sebelum saya berangkat, dia menelepon saya. Dia berjanji akan menjemput saya.

Sewaktu hendak keluar dari gedung terminal kedatangan, dari kejauhan saya melihat empat gadis berhijab syar'i melambaikan tangan ke arah saya. Ya, diantara mereka ada sahabat saya, Ainun. Tak lama kemudian dengan senyum lebar kami sudah berjabat tangan dan saling berkenalan.

Mobil kijang milik Perguruan Diniyyah Puteri yang kami tumpangi sempat singgah sebentar di sebuah restoran untuk santap malam kemudian menuju Padang Panjang. Diperjalanan kami semua mengobrol dengan serunya. Bang sopir dan tiga gadis yang baru saya kenalpun, seolah kawan lama.

Menjelang tengah malam, kami tiba di Pondok Pesantren Diniyyah Puteri, Padang Panjang. Saya ditempatkan di sebuah guest house, rumah tua terbuat dari kayu yang artistik dan bersih di lingkungan pondok pesantren.

Saat berbaring, saya merenung. Saya sungguh bersyukur bisa berjumpa dengan orang-orang baik, yang tidak membedakan suku, ras maupun agama.

Bayangkan, saya yang Cina dan Kristen ini diundang tinggal di lingkungan pesantren selama 3 hari untuk mengisi seminar dan pelatihan di Perguruan Puteri Islam yang tertua dan terbesar se-Sumatera.

Pagi hari pukul 06.30 pintu kamar diketuk. Ternyata ada dua santri puteri yang ditugaskan untuk melayani saya sarapan pagi nan mewah. Nasi goreng plus seporsi sate padang...
Sewaktu saya makan, kedua santri tadi dengan takzim menunggu sambil duduk di lantai ruang tamu. Bukan apa-apa, memang harus duduk dilantai papan yang dilapisi karpet karena tidak ada sofanya.

Pagi itu sebelum seminar dimulai, saya diperkenalkan dengan seluruh pimpinan Perguruan dan para kepala sekolah. Seminar dilaksanakan di Aula yang besar dan megah dengan dihadiri seluruh guru mulai dari TK/RA sampai SMA/MA. Kesan yang saya dapatkan, mereka begitu sopan, tulus, terbuka dan akrab meskipun tahu saya nonmuslim. Itulah indahnya toleransi.

Seusai seminar, saya diajak empat gadis itu pesiar ke Bukittinggi. Berfoto-foto di Jam Gadang, istana Bung Hatta, di gua Jepang dengan backgound ngarai Sianok nan elok dan makan sate padang... hmmm... yummy...

Esok harinya seusai pelatihan yang menghabiskan waktu seharian, saya diundang dinner di kediaman pemilik sekaligus cucu atau mungkin cicit dari pendiri Pondok Pesantren tersebut; ibu Fauziah Fauzan atau biasa dipanggil dengan sebutan ibu Zizi.
Selama makan, beliau menceriterakan sejarah singkat berdirinya pesantren puteri ini. Suasananya cair dan penuh canda tawa. Saya tak menyangka ibu Zizi begitu rendah hati dan bersahabat dalam menjamu saya.

Pagi sekali di hari terakhir, kembali empat gadis itu menjemput saya di guest house. Tak lama kemudian mobil sudah melaju menuju airport. Di sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam karena masih merasakan kelelahan dengan padatnya acara selama dua hari itu.

Dikeheningan cabin mobil Kijang, saya teringat lagu lawas yang pernah dibawakan oleh Frank Sinatra : I left my heart in San Fransisco... Tapi kali ini lagunya saya ubah menjadi I left my heart in Padang Panjang. Hati saya sudah tertambat di Padang Panjang .....

Ya, hati saya sungguh tertambat pada mereka yang dengan tulus telah menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, meski kami berbeda namun satu bangsa jua, Bhineka Tunggal Ika.

Sahabat, betapa indahnya bila sesama anak bangsa, apapun latar belakangnya bisa saling mengasihi, saling terbuka, saling toleran dan saling bekerjasama untuk membawa negeri ini menjadi negeri yang bermartabat, damai, adil dan makmur.

I left my heart in Padang Panjang...

#agoesibram FDBB

No comments:

Powered by Blogger.